"Runa... Bangunlah." kurasakan tangan lembut ibu menyentuhku. Kusibak selimutku dan membuka mata. Masih seperti 18 tahun yang lalu. Buatku tak ada bedanya terlelap dan terjaga. Hitam. Gelap.
"Bagaimana dunia pagi ini bu?" tanyaku.
"sebaik dirimu pagi ini sayang.." jawabnya menenangkan. Itulah ibuku Mata sekaligus penguatku. Saat ini hanya Ibu yang kupunya. Ayahku meninggal dunia saat umurku 8 tahun. Tapi aku yakin Ayah selalu menjagaku dari atas sana.
---
Ku berjalan menuju taman kecil di halaman rumah. Tidak susah, aku sudah melakukannya tiap pagi selama 18 tahun. Kucoba meraba udara berharap menemukan sandaran kursi favoritku. Dapat. Aku duduk diatasnya, lalu menyandarkan kepalaku. Kucoba membayangkan langit diatasku seperti deskripsi ibu. Biru dan berawan.
Kuambil tape recorder dari saku celanaku. Ku tekan tombol rekam, dan mulai merangkai kata.
" Dalam gelap ku terdiam.
menikmati hitamnya.
mencari celah putih di setiap sudutnya.
Hitam dan Putih.
bagaimana rupanya ku tak pernah tahu.
Bagaimana aku ?
hitam atau putihkah ?
Entah.
Dalam gelap ku terdiam.
menikmati hitamnya."
Beginilah caraku menulis. Ya, aku ingin menjadi seorang penulis. Menuliskan sebuah karya untuk sahabat-sahabat yang sama denganku. Jauh dari sempurna. Memberitahukan pada dunia bahwa kami disini memeliki mimpi. Agar orang-orang di luar sana tidak hanya mengasihani, tetapi juga mengagumi. Bagaimana bisa ? aku sendiri juga tak tahu.Aku hanya mengenal hurufku. Braille. Huruf kalian tak pernah kutahu. Rasanya mustahil.
"Kata-kata yang indah sayang..ibu tak pernah tahu kau pandai merangkai kata.. kau seharusnya menjadi seorang penulis.." Kata ibu mengagetkanku.
"Ibu? sejak.. ehm, maksudku, benarkah?" tanyaku malu.
"benar sayang..." jawab ibu lalu memelukku.
"Aku ingin menjadi penulis buu.." ujarku lirih.
---
Pagi ini terasa berbeda. Biasanya ibu selalu membangunkanku, tapi tidak pagi ini. Mungkin ibu harus masuk kerja lebih awal. Kuambil tongkatku dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai ku bejalan kembali ke kamar. Kuambil baju yang sudah ibu siapkan dan memakainya. Kucari tape recorderku dilaci kecil sebelah ranjang. TIdak ada. Kemana perginya? apa mungkin ada yang mencurinya? batinku. Ku berjalan ketaman untuk mencaronya. Nihil.
"Runa, sedang mancari apa?" tanya ibu yang lagi-lagi mengagetkanku.
"tape recorderku bu, apa ibu melihatnya?"jawabku.
"hmm.. oh iya sayang.. kau tahu tanggal berapa ini ?"
" ibu, aku bertanya apa ibu melihat tape-ku, tapi ibu malah menanyakan hari?" jawabku kesal.
" kemarilah, ikut ibu kedalam, ibu ingin bicara sasuatu.." katanya sambil menuntunku masuk kedalam rumah. ibu mendudukkanku disofa. lalu menggenggam tanganku erat.
" Runa, hari ini tanggal 3 Oktober, dan hari ini kau berulang tahun yang ke 18.. ibu tidak bisa memberimu apa-apa.. jadi ibu membawa tape recordermu ke salah satu penerbit buku.. dan kau tahu sayang? mereka menyukai tulisanmu.." jelas ibu. Kata-kata ibu seperti air es menyiram hatiku. Membuatnya sangat sejuk. TAk terasa air mataku meleleh membasahi pipi. upeluk ibuku erat.
"terimakasih buu.. Aku sangat menyayangi ibu.." kataku tulus.
" selamat ulang tahun sayang. Ibu juga menyayangimu.." jawabnya lalu mengecup keningku.
" selamat ulang tahun sayang. Ibu juga menyayangimu.." jawabnya lalu mengecup keningku.
---
Mimpiku terwujud. Tuhan mengizinkannya menjadi kenyataan. Hari ini buku pertamaku dirilis. Aku tida tahu bagaimana rupanya, yang aku tahu buku itu berjudul Aku, Hitam dan Putihku. Bukuku diterbitkan dalam dua versi, dengan huruf kalian dan hurufku. Hari ini aku diharap datang di acara launching bukuku. Kata ibu aku sangat cantik hari ini, aku memakai dress kuning pucat. sepanjang acara aku merasa sangat gugup. Mereka banyak bertanya tentang bakat dan kondisiku. setelah hampir dua jam tanya jawab, akhirnya acara itu ditutup. Semua orang bertepuk tangan dan menyalamiku. Entah, apakah ini mimpi atau nyata.
---
19 Oktober 2010. Hari ini aku akan menjalani operasi mata. Dan selama dua hari ini aku harus menginap di rumah sakit untuk melakukan berbagai tes yeng merepotkan. Sebenarnya aku tidak ingin mengoperasi mataku. Aku masih bisa merasakan keindahan dunia meskipun tadak melihatnya. Tapi ibu memaksaku.Aku melakukannya demi ibu. Sekarang para doter dan perawat membawaku ke ruang operasi. Kurasakan tangan ibu menggenggam tanganku erat. Lalu terlepas di depan pintu operasi. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri sampai akhirnya ada benda tajam yang menusuk kulitku, membuatku merasa tenang dan tertidur.
Sayup-sayup kudengar suara ibu membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Apa operasinya sudah selesai? Atau apakah ini surga ? batinku.
"bu.." panggilku lirih.
"Runa? kau sudah sadar? Terimakasih Tuhan.." katanya.
"Bagaimana operasinya?" tanyaku.
"tinggal melihat hasilnya sayang.." jawab ibu lalu memelukku.
---
"Runa, apa kau siap?" tanya dokter Pras. Dokter yang menangani oprasiku. Aku mengangguk. Pelan-Pelan dokter Pras membuka kapas yang menutup mataku.
"Buka matamu Nona.." katanya.
Kubuka mataku pelan. Rasanya berat. Gelap. Masih gelap seperti dulu. Apakah operasinya gagal? tanyaku dalam hati. Tapi kemudian ada cahaya menyilaukan didepanku. seperti ada gambar, tapi sangat tidak jelas. Samar-samar terlihat dua orang wanita , yang satu memakai penutup kepala seperti kain, dan yang satu memakai baju yang sama dengan laki-laki disampingnya. Aku bisa melihat.
" Ibu, kaukah itu? " tanyaku.
wanita yang kupanggil ibu menghampiriku lalu memelukku erat. Dia menangis. Aku menatapnya dengan seksama, kukagumi wajah ibu yang menyayangiku. Cantik. Kuraba pelan wajahnya, kuhapus air matanya. Seperti inikah wajah ibuku? sangat indah Tuhan.
"seharusnya ibu bahagia aku bisa melihat.. kenapa ibu menangis?" tanyaku.
"karena ibu menyayangimu, Nak.."
"karena ibu menyayangimu, Nak.."
---
Hari ini aku sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit. Inikah rumahku? Tidak terlalu besar. Tapi sangat indah. Aku berjalan menyusutri tiap ruang di rumahku. lalu berhenti di depan Ruang bertuliskan Aruna Putri. Aku membuka pintunya. Sebuah kamar dengan dekorasi yang sangat indah, dengan dinding berwarna ungu. Kutaruh barang-barangku di atas kasur. Lalu keluar menuju taman dan bangku favoritku. kududuk diatasnya. Dan menatap langit. Beginikah langit ? Mengapa idak seterang kata ibu? setitik air jatuh dari langit dan menempel di hidungku. semakin banyak. dan semakin banyak.
"Runa. masuklah.. diluar hujan sayang.." panggil Ibu.
Aku berjalan masuk kedalam rumah menuju kamarku. Namun kumasih mengintip hujan dari balik jendela. Oktober di akhiri dengan hujannya. Dan aku terdiam karena indahnya. Hujan di penghujung Oktober membuka kisah baru dalam hidupku dan duniaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar